Pengobatan Gratis, Menzalimi Petugas Medis

Ada beberapa hal yg melatarbelakangi kenapa saya mengatakan demikian.
1. Gaji dan insetif petugas kesehatan terlalu rendah.
Pengobatan gratis otomatis akan memperbanyak jumlah kunjungan ke Puskesmas. Tenaga Puskesmas memang cukup, tapi insentif mereka sangat rendah bahkan dibawah standar.Apalagi sebagian besar perawat masih merupakan tenaga honorer dan kontrak terbatas. Gaji termasuk tunjangan perawat PNS golongan II sekitar 1,5 juta. Itu sudah lumayan. Namun gaji honorer dan tenaga kontrak daerah sangat rendah. Gaji pokok untuk tamatan Akper 450.000 dan tunjangan bulanan Rp. 300. 000 sedangkan untuk tamatan SPK gaji pokok hanya 350.000. Sangat jauh dari Upah Minimum Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yakni Rp. 1.000.000,-. Kalau mengadalkan gaji sejumlah itu saja, sulit rasanya untuk hidup di Nagan Raya yang harga kebutuhan hidup berdasarkan harga dollar. Mahal men… Sekali makan pake sepotong ikan goreng saja paling murah Rp.9.000. Jus Alpokat rata-rata harga Rp. 6.000 bahkan warung di depan PKM Jeuram harganya Rp. 7.000,-.

Belum lagi kalau sering hadir di acara kenduri-syukuran. Di Jeuram paling kurang 10 kali undangan tiap bulan. Tiap kali ke acara kenduri biasanya membawa angpao paling kurang Rp.10.000 kalau tidak harus bawa gula atau bahkan emas -) Habis deh gaji yg cuma segitu. Belum lagi isi pulsa hape. Mumang ulee (= pusing kepala).
Untuk uang makan saja, gaji perawat tidak cukup, bagaimana mungkin mereka bisa dipaksa jaga siang malam di Puskesmas. Dokter tidak diberikan uang untuk jaga. Padahal di kantor dinas lain, uang lembur ada, bahkan jumlahnya lumayan besar. Dokter yg kadang terpaksa tidak tidur untuk melayani pasien tidak diberikan uang jaga samasekali.

2. Fasilitas dan obat-obatan belum memadai.
Pengobatan gratis memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun harus dibarengi dengan penyediaan fasilitas kesehatan dan obat-obatan yang cukup serta insentif yang layak untuk tenaga medis dan paramedis. Obat-obatan tertentu yg merupakan obat-obat dasar tidak tersedia di puskesmas. Sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan bisa maksimal dan tidak menzalimi petugas medis.

Bagaimana mungkin mengharapkan pelayanan yang optimal bila obat mual-mual saja tidak tersedia di Puskesmas. Bahkan tahun lalu oksigen hanya disediakan 18 tabung saja untuk satu tahun. Satu bulan sudah habis. Jarum infuspun sangat terbatas.

Sehingga dengan sangat terpaksa pasien-walaupun ia miskin harus membeli sendiri obat-obatan yg tidak ada. Kalau mengharap uang Jamkesmas 2008, rasanya sulit. Dana yang diberikan terlalu sedikit. Tahun lalu dan yang diberikan lumayan banyak. Namun untuk tahun ini sangat sedikit. Alokasi dana Askeskin 2007 Puskesmas Jeuram 0,5 Milyar lebih, namun untuk tahun 2008 hanya 95 juta-an. Suatu penurunan yang fantastis kan ? Mana bisa lagi untuk beli obat. Uang segitu sudah habis hanya untuk membayar klaim persalinan yg belum dibayar dan untuk rujukan pasien.

3 Tanggapan

  1. Betul sekali saya setuju, perlunya insentif sbg rasa penghargaan atas pengabdian tenaga medis. Yang lebih menderita dokternya yang jaga 24 jam stanby. Kalo dokter ada 2 bisa bergantian,kalo 1 org bisa stress.

  2. Sabar..sabar…pasti ada jalan….

  3. setuju sekali. dan lebih parah lagi di kabupaten pandeglang gaji pokok tenaga TKK cuma Rp.200.000. bagaimana menciptakan tenaga yang loyal dengan upah sebesar itu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: